Senja telah datang begitu cepat. Selincah becak yang mengantarkan aku pulang ke rumah. Aku melihatmu di sana. Di bawah gerimis tepat 3 sore kau berdiri di bawah atap cafe kopi kesukaan kita dulu.
Tapi maaf..aku melewatimu. Aku tak berhenti atau sekedar melambaikan tangan padamu.
Mungkin ini sangat kejam. Sebuah bilah tajam telah merobek hubungan kau dan aku. Tapi aku memilih mau. Dan kau memilih melawan. Aku tak bisa lagi bertahan sayang..dalam buaian angan dan impian yang tak kunjung jadi kenyataan. Hidup cuma perhentian. Dan aku memilih untuk tidak terus tinggal di perhentian itu,namun aku melanjutkan perjalananku.
Maafkan aku yang tak lagi bertahan dalam percintaanku dengan secangkir kopi hangat,agak pahit lebih banyak manis. Aku sudah lelah. Tapi bukan aku menyerah. Namun dayaku sudah tiada. Sangat berbeda antara menyerah dan harus berhenti. Ada batas-batas yang menyuruh kita untuk menjeda,dan melepaskan. Ada waktu untuk aku berbalik dan pergi.
Kopi kesukaanmu. Kopi yang ku cinta. Cafe tempat kita bertemu. Cinta yang menyatukan kita. Aku harus meninggalkannya.
Kau sama indahnya dengan kopi itu..kadang pahitmu menggugahku bahwa akupun bukan manusia sempurna. Namun pahitmu juga membunuhku perlahan,menyadarkanku bahwa kita bukanlah untuk kopi dan cangkirnya. Begitu cocok dan saling melengkapi. Namun bukan aku yang menyempurnakanmu. Kamu juga tak kan pernah menjadi pasangan puzle jiwaku.
Awan mulai beranjak petang. Tidak ada bintang maupun bulan malam ini. Tidak apa. Tuhan memberi bonus dengan penerangan ciptaannya kemarin,jadi sekarang biarlah gelap ini yang menjadi teman dalam kelamku. Meski tiada sinar,namun malam ini cukup indah menurutku. Ada lilin yang tersisa.
Malam telah benar-benar datang. Segelas teh hangat di meja,menjadi teman berbagi suka dan lara.
Perlahan tapi pasti teh telah menggantikan kopi cintaku.
Ya..mungkin aku tak kan bisa melupakanmu..namun aku sangat bisa menggantikanmu..meski itu sangat berbeda..





